Kamis, 23 Juni 2011

Upaya Penanggulangan Seks Bebas di Kalangan Remaja


BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang Masalah
Masa remaja menyimpan banyak hal yang menarik untuk dibicarakan. Mengapa? Karena masa ini merupakan masa peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa dan ditandai dengan perkembangan yang sangat cepat mulai dari aspek fisik dan psikis. Yang dulunya masih bergantung dan tidak bisa lepas dari orang tua setelah remaja menjadi risih apabila diawasi orang tua. Selain itu masa remaja pula diwarnai dengan proses pencarian jati diri  atau krisis identitas diri dimana remaja mulai bertanya-tanya bahwa siapakah dirinya dan apakah perannya dalam masyarakat. Masa pencarian jati diri tersebut mendorongnya mempunyai rasa keingintahuan yang tinggi, ingin tampil menonjol, dan diakui eksistensinya. Namun di sisi lain remaja mengalami ketidakstabilan emosi sehingga mudah dipengaruhi teman dan mengutamakan solidaritas kelompoknya. Hal-hal inilah yang menyebabkan remaja melakukan penyimpangan-penyimpangan terhadap norma dan aturan-aturan yang disebut kenakalan remaja.
Di era global ini remaja memang menjadi bahan pembicaraan yang menarik di kalangan masyarakat luas terkait kenakalan yang mereka lakukan. Bentuk-bentuk kenakalan tersebut diantaranya tawuran pelajar, ugal-ugalan di jalan (ngetrek), narkoba, merokok, judi, miras, aksi kriminalitas, bahkan seks bebas (freesex). Salah satu bentuk kenakalan remaja yang menjadi sorotan masyarakat luas adalah perilaku seks bebas yang jelas amat bertentangan dengan budaya timur. Bentuk kenakalan ini memang tak dapat dipisahkan dengan remaja, pasalnya di usia remaja, akibat pengaruh hormonal yang juga mengalami perubahan fisik yang sangat cepat dan mendadak yang ditunjukkan dengan berkembangnya organ seksual menuju kesempurnaan fungsi serta tumbuhnya organ genetalia sekunder,  menjadikan remaja sangat dekat dengan permasalahan seputar seksual. Namun terbatasnya bekal yang dimiliki menjadikan remaja tak mampu membendung keinginan seksual tersebut yang berujung dengan seks bebas.
Menurut penelitian yang dilakukan National Abortion Federation pada tahun 1999 mencatat bahwa 50 persen dari 474 remaja yang dijadikan sample penelitian tentang perilaku seks bebas, mengaku telah melakukan hubungan seks tanpa nikah/seks bebas. Dari tahun ke tahun data remaja yang melakukan hubungan seks bebas semakin meningkat. Dari sekitar lima persen pada tahun 1980-an, menjadi duapuluh persen pada tahun 2000.( Nugraha, 2000) .
Baru-baru ini Dinas Kesehatan Sukabumi mempublikasikan hasil penelitiannya tentang perilaku seks bebas sepanjang tahun 2007. Sebagaimana yang dilaporkan situs berita okezone.com (20/1/2008), hasil penelitian tersebut sangat mencengangkan mengingat 30% pelajar melakukan seks bebas. Yang lebih menyedihkan lagi para pelajar tersebut menganggap perilaku seks bebas sebagai gaya hidup atau bagian dari pergaulan. Menurut Sekretaris Komisi Penanggulangan Aids Daerah (KPAD) dr Rita Fitrianingsih: “perilaku seks bebas ini telah melibatkan pelajar yang bukan hanya berasal dari tingkat SMU saja tapi juga kalangan pelajar SMP.”
Perilaku amoral yang diimpor dari Barat ini diduga menjadi pendorong utama penyebaran HIV Aids di Kota Sukabumi selama tujuh tahun terakhir yang mencapai 206 kasus. “Temuan baru kasus HIV Aids pada tahun 2007 sebanyak 44 kasus dengan kasus kematian sebanyak 24 kasus. Angka temuan kasus baru itu lebih rendah ketimbang temuan kasus pada tahun 2006. yang mencapai 94 kasus. Secara akumulasi jumlah penderita HIV Aids selama tahun 2000-2007 mencapai 206 kasus” kata dr. Rita.
Sementara itu di Kalimantan Selatan, dalam dua tahun penyakit kelamin (spilis) meningkat 300%. Menurut data yang dipublikasikan Banjarmasin Post (21/8/2007) jumlah penderita penyakit kelamin meningkat dari 35 orang penderita pada tahun 2005 menjadi 104 orang pada 2006.
Adapun sebaran kasus penyakit ini pada tahun 2006 terbanyak di Kota Banjarmasin mencapai 40 kasus, Kabupaten Banjar 25 kasus, dan Tanah Bumbu 14 kasus. Kasus lainnya berasal dari wanita pekerja sosial (WPS) tidak langsung seperti pekerja salon yang memberikan layanan plus, 3 kasus, WPS langsung 23 kasus, napi 78 kasus, dan sisanya tersebar hampir di seluruh kabupaten dan kota lainnya.
Pengelola Program HIV/AIDS Dinas Kesehatan Kalsel Mursalin menyimpulkan, tingginya kasus penderita spilis tersebut sebagai salah satu indikator semakin maraknya perilaku seks bebas di Kalsel.
Di tingkat nasional, Dr Boy Abidin SpOG mengungkapkan seks bebas mencapai 22,6 % di kalangan remaja kita (Detik.com) yang dipublikasikan ulang di (http://www.duniasex.com/forum/showthread.php?t=68636). Seks bebas selain berdampak pada peningkatan penderita penyakit kelamin juga menjadi faktor pendorong tingginya angka aborsi di Indonesia. Setiap tahun di Indonesia diperkirakan terjadi 2,5 juta kasus aborasi (community.kompas.com). Di tingkat Asia kasus aborsi berdasarkan data tahun 1997 mencapai 27 juta kasus (community.kompas.com). [HM/JEINews].
Lalu, bagaimana dengan perilaku seks bebas di kalangan remaja di zaman global sekarang ini, di mana perkembangan teknologi dan informasi memungkinkan dunia hanya selebar daun kelor saja yang menyebabkan transfer budaya dapat berlangsung dalam waktu yang relatif singkat dan mewabah secara global. Tentunya kasus seks bebas haruslah mendapat tindakan penanggulangan yang tegas dan tidak hanya dijadikan bahan expose berita belaka mengingat kasus ini berkaitan dengan citra remaja di mata masyarakat dan juga masa depan bangsa ini. Mungkinkah di kemudian hari budaya luhur bangsa kita digeser oleh budaya barat yang menawarkan kenikmatan dalam sekejap saja. Lalu, apalah artinya norma yang kini hanya dijadikan sebagai makna hias belaka tanpa adanya realisasi dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan latar belakang di atas penulis merasa prihatin sehingga  membuat karya tulis ilmiah dengan topik “Upaya Penanggulangan Seks Bebas di Kalangan Remaja.”
B.   Rumusan Masalah
Meningkatnya perilaku seks bebas di kalangan remaja dari tahun ke tahun dapat menunjukkan indikator kerusakan moral suatu bangsa, pasalnya jika moral remaja sudah rusak maka nasib bangsa ini akan sangat menyakitkan untuk disaksikan. Begitu besarnya pengorbanan yang dilakukan para pendiri bangsa bahkan selama 3,5 abad lamanya ternyata mampu digeser oleh gaya hidup seks bebas yang mewabah hanya dalam waktu sekejap saja. Tentunya hal ini sangatlah memprihatinkan dan secepat mungkin harus mendapatkan tindak penanggulangan yang jelas. Untuk itulah penulis merumuskan masalah yang akan ditelitinya sebagai berikut:
1.     Apa penyebab perilaku seks bebas di kalangan remaja?
2.     Apa dampak perilaku seks bebas bagi kalangan remaja?
3.  Bagaimana tingkat perilaku seks bebas remaja di Kabupaten Tana Toraja?
4.     Bagaimana upaya penanggulangan seks bebas di kalangan remaja?
C.   Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan karya tulis ilmiah ini adalah:
1.    Untuk mendeskripsikan dan menjelaskan apa saja penyebab perilaku seks bebas di kalangan remaja.
2.    Untuk mendeskripsikan dan menjelaskan dampak perilaku seks bebas bagi kalangan remaja.
3.    Untuk mengetahui tingkat perilaku seks bebas di Kabupaten Tana Toraja.
4.    Untuk mendeskripsikan dan menjelaskan upaya penanggulangan seks bebas di kalangan remaja.


D.   Manfaat Penulisan
Manfaat penulisan karya tulis ilmiah ini adalah sebagai berikut:
1.  Bagi remaja agar mengetahui informasi seputar perilaku seks bebas seperti penyebab dan dampaknya sehingga mampu menghindarkan diri dari perilaku tersebut serta mengetahui upaya penanggulangannya sehingga mampu menanamkan prinsip-prinsip tersebut untuk menjauhkan diri dari perilaku seks bebas.
2.  Bagi masyarakat khususnya orang tua para remaja agar mampu mendidik dan membekali anak-anaknya dengan informasi seputar perilaku seks sehingga penyimpangan seperti perilaku seks bebas dapat terhindarkan.
3.  Sebagai bahan bacaan di perpustakaan dan bahan referensi di bidang kenakalan remaja.








BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Penelitian yang dilaksanakan untuk mengkaji suatu permasalahan guna mencapai tujuan tertentu, membutuhkan sejumlah teori yang menjadi kerangka landasan dalam penelitiannya. Oleh karena itu, perlu dijelaskan terlebih dahulu kerangka teori yang mendasari penelitian.
A. Pengertian Remaja
Sebelum mengulas lebih jauh mengenai perilaku seks bebas di kalangan remaja, kita perlu mengetahui siapa saja yang disebut sebagai seorang remaja dan berapa batasan umur seseorang bisa disebut sebagai remaja .
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ke-3, remaja didefenisikan sudah mulai dewasa, sudah sampai umur untuk kawin, bukan kanak-kanak lagi, dan pemuda.
Remaja berasal dari kata latin adolensence yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosional sosial dan fisik (Hurlock, 1992). Remaja sebenarnya tidak mempunyai tempat yang jelas karena tidak termasuk golongan anak tetapi tidak juga golongan dewasa atau tua. Seperti yang dikemukakan oleh Calon (dalam Monks, dkk 1990) bahwa masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat transisi atau peralihan karena remaja belum memperoleh status dewasa dan tidak lagi memiliki status anak.
Borring E.G. ( dalam Hurlock, 1990 ) mengatakan bahwa masa remaja merupakan suatu periode atau masa tumbuhnya seseorang dalam masa transisi dari anak-anak ke masa dewasa, yang meliputi semua perkembangan yang dialami sebagai persiapan memasuki masa dewasa. Sedangkan Monks, dkk (dalam Hurlock, 1990) menyatakan bahwa masa remaja suatu masa di saat individu berkembang dari pertama kali menunjukkan tanda-tanda seksual, mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari anak menjadi dewasa, serta terjadi peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi yang penuh pada keadaan yang mandiri.
Neidahart (dalam Hurlock, 1990 ) menyatakan bahwa masa remaja merupakan masa peralihan dan ketergantungan pada masa anak-anak ke masa dewasa, dan pada masa ini remaja dituntut untuk mandiri. Pendapat ini hampir sama dengan yang dikemukakan oleh Ottorank (dalam Hurlock, 1990 ) bahwa masa remaja merupakan masa perubahan yang drastis dari keadaan tergantung menjadi keadaan mandiri, bahkan Daradjat (dalam Hurlock, 1990 ) mengatakan masa remaja adalah masa dimana munculnya berbagai kebutuhan dan emosi serta tumbuhnya kekuatan dan kemampuan fisik yang lebih jelas dan daya fikir yang matang.
Erikson (dalam Hurlock, 1990 ) menyatakan bahwa masa remaja adalah masa kritis identitas atau masalah identitas – ego remaja. Identitas diri yang dicari remaja berupa usaha untuk menjelaskan siapa dirinya dan apa perannya dalam masyarakat, serta usaha mencari perasaan kesinambungan dan kesamaan baru para remaja harus memperjuangkan kembali dan seseorang akan siap menempatkan idola dan ideal seseorang sebagai pembimbing dalam mencapai identitas akhir.
Menurut Sri Rumini & Siti Sundari (2004: 53) masa remaja adalah peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek/ fungsi untuk memasuki masa dewasa. Masa remaja berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria. Sedangkan menurut Zakiah Darajat (1990: 23) remaja adalah:
masa peralihan diantara masa kanak-kanak dan dewasa. Dalam masa ini anak mengalami masa pertumbuhan dan masa perkembangan fisiknya maupun perkembangan psikisnya. Mereka bukanlah anak-anak baik bentuk badan ataupun cara berfikir atau bertindak, tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang.
Hal senada diungkapkan oleh Santrock (2003: 26) bahwa remaja (adolescene) diartikan sebagai masa perkembangan transisi antara masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif, dan sosial-emosional.
Batasan usia remaja yang umum digunakan oleh para ahli adalah antara 12 hingga 21 tahun. Rentang waktu usia remaja ini biasanya dibedakan atas tiga, yaitu 12 – 15 tahun = masa remaja awal, 15 – 18 tahun = masa remaja pertengahan, dan 18 – 21 tahun = masa remaja akhir.  Tetapi Monks, Knoers, dan Haditono membedakan masa remaja menjadi empat bagian, yaitu masa pra-remaja 10 – 12 tahun, masa remaja awal 12 – 15 tahun, masa remaja pertengahan 15 – 18 tahun, dan masa remaja akhir 18 – 21 tahun (Deswita, 2006:  192)
Berdasarkan beberapa pengertian remaja yang telah dikemukakan para ahli, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa remaja adalah individu yang sedang berada pada masa peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa dengan rentang usia antara 12-22 tahun, dan ditandai dengan perkembangan yang sangat cepat dari aspek fisik, psikis dan sosial.
B.    Pengertian Kenakalan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ke-3, kenakalan adalah sifat nakal atau perbuatan nakal, dan tingkah laku yang secara ringan menyalahi norma yang berlaku dalam suatu masyarakat.
C.    Pengertian Kenakalan Remaja
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ke-3, kenakalan remaja adalah perilaku remaja yang menyalahi aturan sosial di lingkungan masyarakat tertentu.
Menurut Paul Moedikdo,SH kenakalan remaja adalah :
1.     Semua perbuatan yang dilakukan oleh remaja yang dilarang oleh hukum pidana, seperti mencuri, menganiaya dan sebagainya.
2.     Semua perbuatan penyelewengan dari norma kelompok tertentu untuk menimbulkan keonaran dalam masyarakat.
3.      Semua perbuatan yang menunjukkan kebutuhan perlindungan bagi sosial.
Kenakalan remaja dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah juvenile delinquency   didefinisikan sebagai perilaku menyimpang atau tingkah laku yang tidak dapat diterima sosial sampai pelanggaran status hingga tindak kriminal. (Kartono,2003).
"Kenakalan remaja merupakan kumpulan dari berbagai perilaku remaja yang tidak dapat diterima secara sosial hingga terjadi tindakan kriminal." (Santrock).

D.    Sejarah Sorotan terhadap Kenakalan Remaja
Masalah kenakalan remaja mulai mendapat perhatian masyarakat secara khusus sejak terbentuknya peradilan untuk anak-anak nakal (juvenile court) pada 1899 di Illinois, Amerika Serikat.
E.     Jenis-Jenis Kenakalan Remaja
a.    Penyalahgunaan narkoba
b.     Seks bebas
c.    Tawuran antara pelajar
d.    Merokok
e.    Ugal-ugalan di jalan(ngetrek)
F.     Pengertian Seks, Seksual, dan Seksualitas
Seks berarti jenis kelamin, yaitu suatu sifat atau ciri yang membedakan laki-laki dan perempuan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ke-3, seks adalah jenis kelamin, hal yang berhubungan dengan alat kelamin seperti senggama, dan birahi. Seksual adalah sesuatu yang berkenaan dengan seks, dengan perkara persetubuhan antara laki-laki dan perempuan. Seksualitas adalah ciri, sifat, atau peranan seks, dorongan seks dan kehidupan seks.
Seks merupakan tindakan hubungan badan antara laki-laki dan perempuan. Kontak badan antara yang berlawanan jenis bisa menimbulkan gairah seksual. Aktifitas seksual pada dasarnya adalah bagian dari naluri yang pemenuhannya sangat dipengaruhi stimulus dari luar tubuh manusia dan alam berfikirnya. ”Seksualitas seseorang atau individu dipengaruhi oleh banyak aspek dalam kehidupan, termasuk di dalamnya prioritas, aspirasi, pilihan kontak sosial, hubungan interpersonal, self evaluation, ekspresi emosi, perasaan, karir dan persahabatan. Perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat, baik dengan lawan jenis maupun dengan sesama jenis” (Wirawan, 2001).
Menurut Sarwono (2001) perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenisnya maupun sesama jenis. Objek seksual biasa berupa orang lain, orang dalam khayalan, atau diri sendiri.
Hyde (1990) perilaku seksual adalah tingkah laku yang dapat menimbulkan kemungkinan untuk mencapai orgasme. Padahal ada kalanya ketika seseorang melakukan senggama ia tidak mengalami orgasme, hal ini biasanya dialami oleh wanita. Untuk itu ditampilkan definisi lain, yaitu perilaku seksual adalah semua jenis aktifitas fisik yang melibatkan tubuh untuk mengekspresikan perasaan erotis atau afeksi ( Nevid, Rathus & Rathus, 1995). Berdasarkan beberapa definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual atau aktifitas fisik yang melibatkan tubuh untuk mengekspresikan perasaan erotis atau afeksi.
G.    Pengertian Seks Bebas
Seks bebas didefenisiskan sebagai perbuatan melakukan aktivitas seks dengan pasangan tanpa adanya ikatan pernikahan.
Menurut Ghifari (2003), perilaku seks bebas adalah hubungan antara dua orang dengan jenis kelamin yang berbeda dimana terjadi hubungan seksual tanpa adanya ikatan pernikahan. Kelompok seks bebas menghalalkan segala cara dalam melakukan seks dan tidak terbatas pada sekelompok orang. Mereka tidak berpegang pada morality atau nilai-nilai manusiawi. Sewaktu-waktu mereka dapat berhubunggan seksual dengan orang lain dan di lain waktu mereka juga bisa menggauli keluarga sendiri.
Menurut Desmita (2005) perilaku seks bebas pada remaja adalah cara remaja mengekspresikan dan melepaskan dorongan seksual, yang berasal dari kematangan organ seksual dan perubahan hormonal dalam berbagai bentuk tingkah laku seksual, seperti berkencan intim, bercumbu, sampai melakukan kontak seksual. Tetapi perilaku tersebut dinilai tidak sesuai dengan norma karena remaja belum memiliki pengalaman tentang seksual.
Menurut Sarwono (2002) perilaku seks bebas adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenisnya maupun dengan sesama jenis. Berdasarkan beberapa definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan perilaku seks bebas adalah perilaku yang didasari oleh dorongan seksual untuk mendapatkan kesenangan seksual dengan lawan jenis yang dilakukan tanpa ikatan pernikahan yang sah.
H.   Bentuk-Bentuk Perilaku Seks Bebas
Menurut Sarwono (2002) bentuk-bentuk dari perilaku seks bebas dapat berupa berkencan intim, berciuman, bercumbu, dan bersenggama.
Menurut Desmita (2005) berbagai bentuk tingkah laku seksual, seperti berkencan intim, bercumbu, sampai melakukan kontak seksual.
Bentuk-bentuk perilaku seks bebas (dalam www.Bkkbn.go.id) yaitu:
a. Petting adalah upaya untuk membangkitkan dorongan seksual antara jenis kelamin dengan tanpa melakukan tindakan intercourse.
b. Oral –genital seks adalah aktivitas menikmati organ seksual melalui mulut. Tipe hubungan seksual model oral-genital ini merupakan alternative aktifitas seksual yang dianggap aman oleh remaja masa kini.
c. Sexual intercourse adalah aktivitas melakukan senggama.
d. Pengalaman Homoseksual adalah pengalaman intim dengan sesama jenis.
Menurut Sarwono (2002) juga mengemukakan beberapa bentuk dari perilaku seks bebas, yaitu:
a. Kissing : Saling bersentuhan antara dua bibir manusia atau pasangan yang didorong oleh hasrat seksual.
b. Necking : Bercumbu tidak sampai pada menempelkan alat kelamin, biasanya dilakukan dengan berpelukan, memegang payudara, atau melakukan oral seks pada alat kelamin tetapi belum bersenggama.
c. Petting : Bercumbu sampai menempelkan alat kelamin, yaitu dengan menggesek-gesekkan alat kelamin dengan pasangan namun belum bersenggama.
d. Intercourse : Mengadakan hubungan kelamin atau bersetubuh diluar pernikahan
Menurut Santrock (2002) bentuk-bentuk perilaku seks bebas, yaitu:
a. Kissing yaitu sentuhan yang terjadi antara bibir diikuti dengan hasrat seksual.
b. Necking yaitu aktivitas seksual di sekitar tubuh tapi belum ada kontak alat kelamin.
c. Petting yaitu menempelkan alat kelamin tapi belum ada kontak alat kelamin.
d. Intercourse yaitu bersenggama atau kontak alat kelamin.
Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa bentuk-bentuk perilaku seks bebas mencakup kissing, necking, petting, sexual intercourse.
Di salah satu harian ibukota tertanggal 22 Desember 2006 ketua Perhimpunan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) dalam salah satu kesempatan mengatakan bahwa 15% remaja Indonesia yang berusia 10-24 tahun telah melakukan hubungan sexual diluar nikah. Sementara itu United Nation Population Fund (UNPF) dan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mensinyalir jumlah kasus aborsi di Indonesia mencapai 2,3 juta pertahunnya, dengan 20% diantaranya dilakukan oleh para remaja. Catatan akhir tahun 2002 Polda Metro Jaya melaporkan terjadinya peningkatan kasus perkosaan di DKI jaya dari 89 kasus pada tahun 2001 menjadi 107 kasus (kenaikan 20%) pada tahun 2002. Data di atas menunjukkan kian maraknya seks bebas (free sex) di masyarakat kita terutama kaum remaja.






BAB III
METODE PENELITIAN
A.                          Variabel dan Desain Penelitian
1.  Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini yang menjadi variabel penelitian adalah “Upaya Penanggulangan Seks Bebas di Kalangan Remaja”. Jenis penelitiannya dalah variabel tunggal.
2.  Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif, yaitu berusaha menjelaskan dan mendeskripsikan data apa adanya tentang objek penelitian yakni upaya penanggulangan seks bebas di kalangan remaja.
B.  Defenisi Operasional Variabel
1.  Defenisi Operasional
Untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai variabel yang diteliti, maka dikemukakan batasan istilah yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu :
a.    Seks bebas adalah aktivitas seks yang dilakukan dengan pasangan tanpa adanya ikatan pernikahan yang sah baik secara agama maupun hukum.
b.    Remaja adalah individu yang sedang berada pada masa peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa dengan rentang usia antara 12-22 tahun, dan ditandai dengan perkembangan yang sangat cepat dari aspek fisik, psikis dan sosial.
c.    Upaya adalah usaha, ikhtiar (untuk mencapai suatu maksud, memecahkan persoalan, mencari jalan keluar dan sebagainya) serta daya upaya.
d.    Penanggulangan adalah proses, cara, perbuatan menanggulangi, menghadapi atau mengatasi.
2.  Populasi dan Sampel
a.                        Populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah remaja. Khusus untuk rumusan masalah yang ketiga yaitu tingkat perilaku seks bebas di Kabupaten Tana Toraja maka penulis berfokus pada satu tempat saja yakni remaja di Kecamatan Makale Kabupaten Tana Toraja yang merupakan pusat pendidikan di kabupaten tersebut di mana pelajar dari berbagai kecamatan menuntut ilmu di kecamatan tersebut dan juga lokasi yang mudah dijangkau oleh penulis.
b.                        Sampel 
Sampel adalah contoh, monster, represant atau wakil dari satu populasi yang jumlahnya cukup besar. Sampel dalam penelitian ini adalah remaja di Indonesia, namun khusus untuk pembahasan rumusan masalah yang ketiga yaitu tingkat perilaku seks bebas di Kabupaten Tana Toraja maka penulis berfokus pada remaja yang sedang duduk di jenjang SMA karena berada pada masa aktif dan pertengahan masa remaja antara SMP dan perguruan tinggi. Jadi sampel penelitian ini adalah pelajar di salah satu SMA di Kecamatan Makale.
C.                         Data dan Sumber Data
1.                                Data
Data dalam penelitian ini berupa informasi seputar perilaku seks bebas di kalangan remaja yang meliputi penyebab, dampak, tingkat perilaku seks bebas di Kabupaten Tana Toraja, dan upaya penanggulangannya.
2.                                Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah :
a)  Data primer atau data lisan yang diperoleh melalui wawancara dengan  informan yang telah ditentukan sebelumnya, yang mengetahui secara pasti seluk-beluk kenakalan remaja khususnya seks bebas.
b)  Data sekunder atau data tertulis adalah data yang diperoleh melalui buku-buku maupun halaman web yang relevan dengan objek penelitian.
D.                         Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.  Penelitian kepustakaan
Penelitian kepustakaan adalah penelitian yang dilakukan melalui tulisan berupa buku, artikel, dan sebagainya yang erat hubungannya dengan masalah yang dibahas. Hal ini dilakukan untuk menentukan pola pikir dan landasan yang ilmiah serta memperluas pengertian tentang masalah yang ada kaitannya dengan objek penelitian.
2.                                        Penelitian lapangan
Penelitian lapangan adalah penelitian yang dilakukan dengan cara mengunjungi secara langsung lokasi penelitian yang ditentukan. Hal ini dilakukan untuk memperoleh landasan empiris dan objektif dalam penelitian ini. Di samping itu juga untuk menghindari segala praduga yang salah. Dengan demikian semua isi pembahasan dan data dalam penelitian ini didasarkan atas fakta yang terjadi di lapangan dan dapat dijadikan data yang objektif serta dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
3.                                        Pencatatan
Dalam pencatatan ini, penulis mencatat hal-hal yang berhubungan dengan perilaku seks bebas di kalangan remaja, baik secara langsung maupun tidak langsung ke dalam buku catatan yang telah dipersiapkan sebelumnya. Selanjutnya data yang telah dikumpulkan diperiksa kembali.
4.                                        Wawancara(interview)
Dalam wawancara ini penulis melakukan percakapan langsung atau tatap muka dengan informan. Dalam hal ini, penulis menggunakan wawancara bebas artinya penulis tidak menyediakan daftar pertanyaan kepada informan. Penulis hanya menentukan topik disertai dengan rincian cakupan penelitian. Dari topik ini, penulis bebas bertanya kepada informan tentang hal-hal yang berhubungan dengan seks bebas di kalangan remaja.
Prosedur pengumpulan data yakni melaksanakan observasi ke salah satu SMA/sederajat di Kecamatan Makale Kabupaten Tana Toraja dan mencari serta menentukan informan yang tepat.
E.   Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif berbentuk studi kasus dengan menggunakan triangulasi data, pengamat, teori dan metode. Karakteristik subjek dalam penelitian ini adalah seorang remaja yang berusia 16 tahun yang pernah melakukan seks bebas dan subjek berjumlah satu orang.






BAB IV
PEMBAHASAN
A.   Penyebab Seks Bebas di Kalangan Remaja
Berkembangnya naruli seks akibat matangnya alat-alat kelamin sekunder pada remaja membuat keingintahuannya mengenai seks menjadi besar. Kurangnya informasi mengenai seks dari orang tua dan dari sekolah/lembaga formal membuat para remaja mencari informasi seks dari media massa yang tidak sesuai dengan norma-norma yang dianut seperti dari media cetak dan elektronik, teman sebaya, dan pergaulan sosial. Namun media tersebut tidak dapat menjelaskan dengan benar mengenai seks dan tak jarang ada saja media massa yang sengaja mengexposenya untuk memuaskan keinginan remaja tersebut dan menjerat mereka sehingga perilaku seks bebas pun meningkat dari tahun ke tahun.
Menjamurnya perilaku seks bebas di kalangan remaja disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut dapat dikelompokkan menjadi faktor internal dan faktor eksternal.
1.  Faktor Internal
Faktor internal adalah faktor yang berasal dari diri remaja itu sendiri yang meliputi:
a.  Masa Pubertas yang Dialami Remaja
Bukan remaja namanya kalau tidak mengalami masa pubertas. Pubertas merupakan suatu masa yang harus dialami oleh semua remaja cepat atau lambat. Pada masa pubertas alat kelamin sekunder telah matang, sehingga terjadi perubahan fisik dan emosi. Hal ini termasuk ke dalam teori perkembangan psikologi yang alami terjadi “pada setiap individu ketika beranjak menuju tingkat kedewasaan maka tanda-tanda fisik seperti karakter seks pada usia remaja baik yang primer maupun yang sekunder ikut berubah, begitu juga dengan tanda-tanda psikis yang ikut berubah seperti berkembangnya rasa ingin tahu terutama yang berhubungan dengan seks” (Tn.2008:16). Seksualitas pada masa remaja inilah yang sedang memuncak. Dimana ketika fungsi reproduksi mulai bekerja, secara alamiah remaja menjadi ingin tahu banyak tentang seks, sehingga seringkali keingintahuan dan rasa ingin coba remaja menjadi  tidak terkontrol lagi dan berujung pada perilaku seks bebas.
b.  Dorongan Rasa Ingin Tahu yang Tinggi
Masa remaja yang ditandai dengan berkembangnya karakter seks, mendorong keingintahuan remaja terhadap hal tersebut. Namun kurangnya pendidikan seks dari lembaga formal seperti sekolah dan orang tua menyebabkan mereka mencari informasi tersebut pada tempat yang salah yaitu di media massa seperti internet, majalah porno, bahkan film yang mengeksploitasi kehidupan remaja mengenai seks. Tak dapat kita pungkiri maraknya situs-situs porno dan menjamurnya film porno yang beredar di pasaran memberikan ruang terbuka bagi keingintahuan tersebut yang mau tidak mau akan berujung pada keinginan untuk  melampiaskan hasrat seksual tersebut pada perilaku amoral yaitu seks bebas.
c.  Kurangnya mental keimanan (Spiritualisme)
Kurangnya mental keimanan turut mempengaruhi tindakan seseorang termasuk perilaku seksualnya. Apabila benteng keimanan remaja kuat maka ia pasti dapat menghindarkan diri dari perilaku seks bebas. Dalam hal ini iman merupakan pondasi yang kuat yang dapat menghindarkan remaja dari tindakan yang menyimpang tersebut. Demikian pula sebaliknya, apabila benteng keimanan lemah maka pengendalian diri untuk tidak melakukan seks bebas pun lemah dan keinginan tersebut pun tak terhindarkan.
d.  Hawa nafsu
Hawa nafsu merupakan hal yang sangat menentukan dalam terjadinya perilaku seks bebas. Timbulnya rangsangan seks pada diri seorang remaja menyebabkan hawa nafsu yang tidak terkontrol. Hal ini bisa terjadi apabila seorang remaja melakukan tindakan-yang dapat menimbulkan rangsangan, seperti menonton blue film atau video porno, membaca cerita-cerita porno, bahkan ada yang mulai meraba-raba alat kelamin pasangannya saat pacaran. Hal inilah yang seharusnya dihindari oleh para remaja karena sekuat apapun mental keimanan kita jika terus-menerus dirongrong oleh dorongan hawa nafsu yang tidak terkontrol benteng itu dapat saja runtuh sedikit demi sedikit sampai akhirnya menimbulkan perilaku seks bebas. Penelitian di Jakarta tahun 1984 menunjukkan 57,3 persen remaja putri yang hamil pranikah mengaku taat beribadah. Dorongan hingga rangsangan tersebut dapat menjadi pemicu utama perilaku seks bebas apalagi di kalangan remaja yang mental keimanannya lemah.
e.  Tekanan dalam Diri Remaja itu Sendiri
Dalam menjalani kehidupannya,  seorang remaja tentunya tak luput dari permasalahan. Namun tidak semua remaja mengetahui cara mengatasi permasalahan tersebut. Ada dua sifat remaja masa kini yaitu remaja yang terbuka dan tertutup. Remaja yang terbuka tentunya berbagi permasalahannya dengan orang yang dapat memberinya motivasi seperti orang tua dan sahabatnya, sedangkan remaja yang tertutup cenderung lari dari masalah tersebut dan melakukan perilaku yang menyimpang untuk menenangkan diri. Salah satunya dengan melakukan seks bebas.
f.    Seks Bebas Dijadikan Potret Anak Gaul
Sesuatu yang sangat mengagetkan khalayak umum saat ini adalah standarisasi seseorang dikatakan gaul misalnya “ngeseks itu bukti kejantanan”. Banyak remaja yang berpikir bahwa, dengan melakukan seks bebas, maka ia telah dianggap sebagai anak gaul dan diterima dalam pergaulan. Padahal hal ini merupakan suatu kesalahan besar. Akan tetapi, remaja yang memilki konsep diri rendah yang tak memikirkan hal ini secara jernih tetap saja melakukannya supaya ia diterima sebagai anak gaul dan tidak ingin diejek sebagai banci kaleng atau casing laki isi cemen alias nggak laki.
g.  Tidak Bisa Mengatakan ‘TIDAK’
Keinginan untuk selalu bersama dengan kekasih, hidup bersama, seiya sekata, hidup mati pun bersama bahkan segala sesuatu pun ingin bersama. Dunia milik bersama bahkan tubuh pun untuk dinikmati bersama merupakan suatu pandangan terbaru dalam dunia percintaan  remaja yang mengarahkan pemikiran remaja pada hubungan seksual sebagai salah satu cara pembuktikan cinta mereka satu sama lain.
Remaja wanita memang sangat rentan terhadap ajakan seperti ini. Hanya karena takut diputuskan oleh sang kekasih ia pun mengorbankan kesuciannya untuk mempertahankan hubungan tersebut, hal ini senada dengan yang diungkapkan oleh responden kami yang berinisial M (Mantan siswa salah satu SMA di Kabupaten Tana Toraja yang berusia 16 tahun) sebagai berikut :
1)     Mengapa Anda mengiyakan ajakan untuk melakukan hubungan seks yang dikehendaki oleh kekasih Anda?
Ketika itu waktu terasa begitu cepat dan jalan pikiran saya diliputi dengan perasaan dilema di satu sisi saya ingin menolak, tetapi dia akan memutuskan saya dan juga rangsangan seks yang ia mulai timbulkan memaksa saya untuk tidak berpikir jernih. Motif awalnya ia mengajak ketemuan, namun ketika hari mulai menjelang malam ia mengajak saya ke suatu tempat yang belum saya ketahui tapi karena cinta ya, saya ikut saja.  Ternyata ia mengajak saya ke rumahnya di Batutumonga dan ia pun mengajak saya untuk membuktikan cinta saya melalui hubungan seksual.
Dari uraian di atas jelas terpaparkan bahwa remaja zaman ini menuntut pembuktian cinta dari pasangannya dengan melakukan seks pranikah padahal mereka baru dalam tahap pacaran. Seharusnya remaja-remaja yang diperlakukan seperti ini  khususnya remaja wanita berani untuk menolak, ya kalau memaksa berarti putus.  Indikasi seperti ini dapat dijadikan indikator dalam memilih pasangan agar terhindar dari perilaku seks pranikah.
h.  Ketagihan (adiktif)
Seks sama seperti orang makan, kebutuhan mutlak setiap orang. Tetapi kalau dia tidak dikelola dengan benar akibatnya bisa gawat. Sekali saja mencoba pasti akan mau lagi dan lagi. Apabila seorang remaja sudah pernah melakukan hubungan seks di luar nikah maka rasa ingin dan ingin mencoba lagi itu akan muncul apalagi apabila ia belum mengalami konsekuensi yang membuatnya jera. Hal ini akan membuat remaja tersebut berkesimpulan bahwa seks itu nikmat asalkan tahu cara mainnya. Hal inilah yang juga dialami oleh responden kami yang berinisial M (Mantan siswa salah satu SMA di Kabupaten Tana Toraja yang berusia 16 tahun) sebagai berikut:
1)     Apakah setelah melakukan hubungan seks di luar nikah untuk pertama kalinya Anda langsung jera?
Saya melakukan hubungan seks di luar nikah pertama kali saat saya masih duduk di bangku kelas IX SMP dan saat itu saya melakukannya dengan cara yang aman sehingga tidak menyebabkan saya hamil sehingga saya tidak merasa jera sedikit pun.
2)     Jadi Anda masih melakukannya lagi semenjak saat itu?
Benar, pada saat itu saya mendapatkan kepuasan seksual yang begitu luar biasa namun untuk sesaat saja. Setelah saat itu saya menginginkannya lagi dan ya, saya melegalkan saja melakukan hubungan seks sebagai jalan yang harus saya tempuh untuk memuaskan nafsu birahi saya bahkan melakukannya sampai tiga kali dengan pasangan yang berbeda. Namun pada akhirnya saya harus menerima konsekuensi hamil di luar nikah yang menyebabkan saya jera.

2.  Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri remaja yang meliputi:
a.  Dampak Negatif Perkembangan Teknologi
Di zaman global sekarang ini, teknologi informasi berkembang begitu pesat sehingga memungkinkan kita mengakses sejumlah informasi yang baik maupun buruk. Kemudahan mengakses informasi terutama informasi yang buruk turut memicu perilaku seks bebas. Kecenderungan pelanggaran makin meningkat karena adanya penyebaran informasi dan rangsangan melalui media massa dengan teknologi  yang canggih (contoh; VCD, buku stenlis, photo, majalah, internet dan lain-lain) menjadi tidak terbendung lagi. Maraknya peredaran film-film blue yang dikemas secara menarik yang kini juga mulai ditiru oleh produser perfilman di negara kita. Remaja yang sedang mengalami periode ingin tahu dan ingin mencoba, akan meniru apa yang dilihat atau didengarnya dari media massa, karena pada umumnya mereka belum pernah mengetahui masalah seksual secara lengkap dari orang tuanya.
b.  Kurangnya Pengawasan Orang Tua
Kurangnya bimbingan dan pengawasan orang tua sudah pasti akan membuat anak menjadi liar, orang tua yang terlalu percaya kepada anak tanpa mengetahui aktivitas yang dilakukan oleh anak-anaknya merupakan tindakan yang salah yang berakibat fatal bagi si anak sendiri. Bahkan bukan tidak mungkin sebenarnya orang tua sendiri yang menjerumuskan anaknya, sebagai contoh misalnya, orang tua merasa malu kalau anaknya yang sudah SMA ataupun sudah remaja belum punya pacar akan didorong untuk segera memiliki pacar. Akhirnya anak tersebut pun mencari pacar dan menjalani hubungan yang awalnya wajar-wajar saja mulai dari jalan bersama, pegangan tangan, kemudian kissing dan berujung pada seks bebas. Orang tua yang terlalu otoriter juga tidak baik bagi perkembangan psikologi anak, ketika ia mendapatkan sekali kebebasan ia akan lupa segalanya.
Cukup tidaknya keteladanan yang diterima sang anak dari orang tuanya  turut memicu aktivitas seksual anak khususnya yang berusia remaja. Orang tua sendiri, baik karena ketidaktahuannya maupun karena sikapnya yang masih mentabukan pembicaraan mengenai seks dengan anak, menjadikan mereka tidak terbuka pada anak, bahkan cenderung membuat jarak dengan anak dalam masalah ini. Hal inilah yang mendorong anak untuk mencari tempat pelarian seperti di jalan-jalan serta di tempat-tempat yang tidak mendidik mereka, sehingga anak akan dibesarkan di lingkungan yang tidak sehat bagi pertumbuhan jiwanya. Ia akan tumbuh di lingkungan pergaulan bebas yang melegalkannya untuk melakukan segala sesuatu yang ia kehendaki termasuk melakukan seks bebas.
c.  Pergaulan Bebas
Dalam lingkungan pergaulan remaja ABG, ada istilah yang kesannya lebih mengarah kepada hal negatif ketimbang hal yang positif, yaitu istilah “anak gaul”. Istilah ini menjadi sebuah ikon bagi dunia remaja masa kini yang ditandai dengan nongkrong di kafe, mondar-mandir di mal, gaya fun, berpakaian serba sempit dan ketat kemudian memamerkan lekuk tubuh, dan mempertontonkan bagian tubuhnya yang seksi bahkan menganggap seks sebagai ikon kehidupan remaja yang gaul. “Kalau nggak ngeseks nggak gaul alias cemen”, itulah istilah yang sering dilontarkan remaja yang menganggap dirinya gaul. Hal ini pula yang dijadikan syarat untuk menerima seseorang di dalam pergaulan. Kurangnya perhatian dari lingkungan keluarga mendorong remaja untuk mencari perhatian dari teman sebayanya walaupun harus melakukan seks bebas untuk diterima di dalam pergaulan mereka.
d.  Adanya kesempatan
Maraknya seks bebas di kalangan remaja juga disebabkan oleh faktor adanya kesempatan untuk memenuhi dorongan seksual yang mereka alami. Kesempatan yang diberikan oleh seorang remaja kepada pasangannya memberi ruang bagi pasangannya untuk memenuhi dorongan seksual tersebut sehingga perilaku seks bebas pun tak terelakkan.
e.  Masuknya Budaya Luar
Masuknya budaya luar turut menyebabkan perilaku seks bebas di kalangan remaja diantaranya budaya barat yang melegalkan hubungan seks yang bahkan menjadikan seks bebas sebagai gaya hidup. Hal inilah yang membuat remaja beranggapan bahwa hal ini juga dapat dilakukan di negara kita dengan jalan meniru. Padahal kenyataannya perilaku ini sangatlah bertentangan dengan budaya kita.
f.    Lemahnya Penegakan Hukum
Lemahnya penegakan hukum mendorong meningkatnya perilaku seks bebas dari tahun ke tahun. Tidak adanya sanksi yang tegas  dari pihak hukum menyebabkan remaja bebas melakukan perilaku seks bebas.
g.  Pengaruh Obat-Obatan Terlarang dan Alkohol
Penggunaan obat-obatan terlarang dan kebiasaan mengonsumsi alkohol turut memicu maraknya perilaku seks bebas. Kedua benda ini bekerja untuk merangsang saraf pusat untuk bekerja di luar kesadaran. Benda ini menyebabkan jalan pikiran penggunanya tidak jernih sehingga tindakan yang menyimpang pun dianggap legal. Salah satu jenis penyimpangan tersebut adalah seks bebas.
h.  Dukungan Dana
Dana dari orang tua yang berlebihan bisa menjadi pemicu seseorang terjerumus ke dalam perilaku seks bebas, karena tidak tahu lagi uangnya mau digunakan untuk  apa, maka mereka mencoba-coba hal-hal yang negatif termasuk seks bebas. Dana yang kurang pun bisa menjadi faktor pemicu seseorang melakukan tindakan seks bebas, entah itu terpaksa atau bahkan ada yang melakukan hal ini dengan senang hati karena sudah terbiasa.
i.    Adanya Praktek Aborsi
Adanya praktek aborsi seakan memberikan jaminan kepada remaja untuk melakukan seks bebas yang menyebabkan tingkat perilaku tersebut  semakin meningkat. Pasalnya dengan adanya praktek aborsi, remaja tidak akan takut lagi untuk melakukan seks bebas, karena apabila mereka mengalami kehamilan, mereka dapat menggugurkan janin yang dikandungnya dengan jalan melakukan aborsi. Walaupun praktek aborsi menimbulkan penderitaan yang luar biasa, namun masih banyak saja remaja yang menggandrungi jalan tersebut agar mereka terhindar dari aib hamil di luar nikah.
B.   Dampak Seks Bebas bagi Kalangan Remaja
Menjamurnya perilaku seks bebas di kalangan remaja membawa sejumlah dampak negatif baik bagi remaja itu sendiri maupun bagi orang lain diantaranya:
1.    Menciptakan Kenangan Buruk
Masih dikatakan “untung” jika hubungan pranikah itu tidak ada yang mengekspos. Si gadis atau si jejaka terlepas dari aib dan cemoohan masyarakat.
Tapi jika ternyata diketahui masyarakat, tentu yang malu bukan saja dirinya sendiri melainkan keluarganya sendiri dan peristiwa ini tidak akan pernah terlupakan oleh masyarakat sekitar. Hal ini tentu saja menjadi beban mental yang berat seperti yang dipaparkan oleh responden kami yang berinisial M (Mantan siswa salah satu SMA di Kabupaten Tana Toraja yang berusia 16 tahun) sebagai berikut:
1)    Apa dampak perilaku seks bebas yang Anda lakukan dengan pasangan Anda terhadap kondisi mental Anda?
Ya, jujur saya merasa begitu terpukul, bersalah dan terbebani dengan aib yang harus saya tanggung. Teman-teman saya di sekolah mengolok saya, keluarga saya memarahi dan memaki saya, serta bisikan di kalangan masyarakat yang begitu menusuk. Saya bahkan tidak berani menampakkan wajah saya kepada mereka.
2.    Kehamilan yang Tidak Diharapkan
Kehamilan yang terjadi akibat seks pranikah bukan saja mendatangkan malapetaka bagi bayi yang dikandungnya namun juga menjadi beban mental yang sangat berat bagi ibunya mengingat kandungannya yang tidak bisa disembunyikan, dan dalam keadaan kalut seperti ini biasanya terjadi depresi, terlebih lagi jika sang pacar kemudian pergi dan tak ingin bertanggung jawab. Kehamilan tersebut akan menimbulkan aib baginya dan keluarganya serta dapat mendorongnya untuk melakukan tindakan aborsi seperti yang dipaparkan responden kami yang berinisial M (Mantan siswa salah satu SMA di Kabupaten Tana Toraja yang berusia 16 tahun) sebagai berikut:
1)    Apa yang Anda rasakan ketika ternyata hubungan terlarang yang Anda lakukan dengan pasangan Anda ternyata membuahkan sebuah janin di rahim Anda?
Saya sangat kaget dan takut menghadapi kenyataan tersebut ditambah lagi dengan ketidakinginan pasangan saya untuk menjadi Bapak dari bayi yang saya kandung ini menambah berat beban yang harus saya tanggung. Syukurlah setelah diancam ia bersedia menikahi saya namun saya yakin hubungan ini tidak akan berakhir dengan baik namun akan berkepanjangan ke dalam problema kehidupan rumah tangga di mana kami berdua belum cukup dewasa untuk menerima tanggung jawab sebagai orang tua.
3.    Putus sekolah
Sudah menjadi peraturan yang tegas di lembaga pendidikan bahwa siswa yang hamil di luar nikah harus dikeluarkan. Tentunya peraturan ini cukup memberi efek jera kepada pelaku seks bebas. “berani berbuat, berani menerima resikonya”. Istilah inilah yang ingin ditanamkan di lembaga pendidikan seperti sekolah. Konsekuensi dari perilaku seks bebas yang harus diterima seorng remaja adalah putus sekolah. Hal inilah yang juga dialami responden kami yang berinisial M (Mantan siswa salah satu SMA di Kabupaten Tana Toraja yang berusia 16 tahun).
1)     Apa konsekuensi yang Anda terima dari pihak sekolah Anda?
Saya dikeluarkan dari sekolah karena itulah peraturan yang ada di sekolah saya. Masa depan saya sudah tidak jelas lagi, saya sudah putus sekolah dan terpaksa jadi ibu rumah tangga.
4.    Meningkatnya Kasus Aborsi
Perilaku seks bebas juga memicu tindakan aborsi. Tak jarang kita menyaksikan berita baik melalui media cetak maupun media elektronik yang menyajikan berita seputar maraknya tindakan aborsi di kalangan remaja.
Menurut Prof. Wimpie, induksi haid adalah nama lain untuk aborsi. Sebagai catatan, kejadian aborsi di Indonesia per tahun cukup tinggi yaitu 2,3 juta per tahun. Dan, 20 persen di antaranya remaja. Sangatlah memprihatinkan melihat presentase tingkat tindakan aborsi yang dilakukan oleh remaja Indonesia. Responden kami yang berinisial M (Mantan siswa salah satu SMA di Kabupaten Tana Toraja yang berusia 16 tahun) juga mengaku sempat berpikir untuk menggugurkan kandungannya melalui tindakan aborsi.
1)     Setelah Anda mengkonfirmasi kehamilan Anda kepada pasangan Anda, dan mengetahui reaksinya yang tidak menginginkan kehadiran bayi tersebut, apa yang Anda pikirkan untuk lakukan?
Jujur waktu itu saya ingin menggugurkan bayi yang sedang saya kandung karena saya sedang kalut. Namun saya tidak tega untuk membunuh darah daging saya sendiri. Untunglah keluarga saya memberi jalan keluar dengan mempertahankan bayi yang ada dalam kandungan saya seberat apapun aib yang harus mereka tanggung akibat perbuatan saya. Saya prihatin melihat remaja seperti saya yang mengalami kehamilan di luar nikah dan dipaksa oleh keluarganya untuk segera menggugurkan kandungan tersebut. Pihak yang harusnya menjadi motivator terbesar justru menyarankan tindakan yang justru akan mendatangkan beban yang lebih berat bagi si remaja itu sendiri yaitu dosa seksual yang telah dilakukannya dan juga dosa karena telah membunuh.
5.    Terjangkit Berbagai Penyakit yang Berbahaya
Remaja pernah melakukan hubungan pranikah waktu pacaran lalu putus, cenderung ingin melakukan hubungan serupa dengan pasangan lain mengingat seks yang sifatnya adiktif (ketergantungan), suatu waktu ia akan merasa “lapar” untuk melakukan hubungan intim lagi. Jika hal ini terus dilakukan, maka bukan hal mustahil ia akan terjangkit penyakit kelamin diantaranya:
  1. Herpes Genital
Hampir 31 juta orang Amerika, satu per enam jumlah penduduk Amerika pernah menderita herpes genital. Herpes, yang disebabkan oleh virus herpes simplex tipe 2, adalah infeksi seumur hidup yang menyebabkan lecet-lecet pada alat kelamin yang biasanya datang dan pergi. Ada pria yang tidak menunjukkan gejala apa pun, tetapi mereka tetap bisa menulari orang lain. Acydovir (Zovirox), sebuah obat yang diresepkan, dapat meringankan gejala-gejalanya, tetapi tidak menyembuhkan. Lecet-lecet karena herpes tersebut bisa meningkatkan risiko tertular AIDS melalui luka di darah.
  1. Sifilis (Penyakit Raja Singa)
Juga dikenal dengan nama Great Imitator karena gejala-gejala awalnya mirip dengan gejala-gejala sejumlah penyakit lain. Sifilis sering dimulai dengan lecet yang tidak terasa sakit pada penis atau bagian kemaluan lain dan berkembang dalam tiga tahap yang dapat berlangsung lebih dari 30 tahun. Secara umum, penyakit ini dapat membuat orang yang telah berumur sangat menderita, karena dapat mengundang penyakit jantung, kerusakan otak, dan kebutaan. Apabila tidak diobati, penyakit ini juga dapat menyebabkan kematian. Kira-kira 120.000 orang di AS tertular sifilis tiap tahun.
  1. Gonore (Kencing Nanah)
Penyakit ini telah dikenal sejak dahulu, menyerang sekitar 1,5 juta orang Amerika, baik pria maupun wanita, setiap tahun. Meskipun sering tanpa gejala, infeksi bakteri ini dapat menyebabkan rasa sakit saat buang air kecil dan mengeluarkan nanah setelah dua hingga sepuluh hari. Kalau tidak diobati, penyakit ini dapat berkembang menjadi artritis, lepuh-lepuh pada kulit, dan infeksi pada jantung atau otak. Gonore dapat disembuhkan dengan antibiotika.
  1. Klamidia
Kondisi ini mempunyai gejala mirip gonore, walaupun bisa juga muncul tanpa gejala. Di Amerika, klamidia termasuk penyakit yang paling mudah diobati, tetapi mudah juga menginfeksi, yaitu sekitar 4 juta orang setiap tahun. Penyakit ini dapat menyebabkan artritis parah dan kemandulan pada pria. Seperti sifilis dan gonore, penderitanya dapat disembuhkan dengan antibiotika.
  1. Jengger Ayam
Di Amerika, kasus kutil pada alat kelamin ini mencapai 1 juta setiap tahunnya. STD ini disebabkan oleh sejenis virus papiloma, yang terkait dengan kanker penis serta anus. Obatnya tidak ada, walaupun kutil yang terjadi dapat dihilangkan melalui operasi atau dibakar, atau dibekukan. Akan tetapi setelah itu gejala yang sama dapat datang kembali.
  1. Hepatitis B
Penyakit ini dapat berlanjut ke sirosis hati atau kanker hati. Setiap tahun kasus yang dilaporkan mencapai 200.000, walaupun ini satu-satunya STD yang dapat dicegah melalui vaksinasi.
  1. Kanker prostat
Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Karin Rosenblatt dari University of Illinois, diketahui bahwa dari 753 pria yang disurvei, terdapat hubungan antara kanker prostat dan banyaknya berhubungan seksual dengan beberapa orang. Pria yang sering melakukan seks dengan banyak wanita berisiko 2 kali lipat terkena kanker prostat.
  1. Kanker Serviks (leher rahim)
Hampir  95 persen kanker serviks disebabkan oleh Human Papiloma Virus (HPV), dan 33 persen wanita dilaporkan punya virus tersebut,yang menyebabkan adanya sakit di leher rahim. Virus ini bisa menular lewat hubungan seksual, dan laki-laki pun bisa tertular oleh virus ini.
  1. HIV/AIDS
Pertama kali ditemukan pada tahun 1984. AIDS adalah penyakit penyebab kematian ke-6 di dunia, baik bagi wanita maupun pria. Virus yang menyerang kekebalan tubuh ini bisa menular melalui darah dan sperma pada saat berhubungan seksual. Hingga kini vaksinnya masih dikembangkan namun belum terbukti ampuh mencegah penularannya.
  1. Trichomoniasis
Bisa menyebabkan daerah di sekitar vagina menjadi berbuih atau berbusa. Ada juga yang tidak mengalami gejala apapun. Penyakit ini bisa menyebabkan bayi terlahir prematur jika sang ibu menderita penyakit ini saat hamil.
6.    Keterlanjuran dan Timbul Rasa Kurang Hormat
Perilaku seks bebas (free sex) menimbulkan suatu keterlibatan emosi dalam diri seorang pria dan wanita. Semakin sering hal itu dilakukan, semakin mendalam rasa ingin mengulangi sekalipun sebelumnya ada rasa sesal. Terlebih lagi bagi wanita, setiap ajakan sang pacar sangat sulit untuk ditolak karena takut ditinggalkan atau diputuskan. Sementara itu bagi laki-laki, melihat pasangannya begitu mudah diajak, akan terus berkurang rasa hormat dan rasa cintanya. Hal ini diakui oleh responden kami yang berinisial M (Mantan siswa salah satu SMA di Kabupaten Tana Toraja yang berusia 16 tahun).
1). Apakah rasa hormat dari pasangan Anda berkurang setelah Anda melakukan hubungan seks dengannya berulang kali?
Ya, benar. Dia menjadi berubah. Mungkin karena yang ia inginkan dari saya hanyalah kepuasan seksual saja sehingga setelah mendapatkan apa yang ia inginkan ternyata hal ini menyebabkan ia tidak hormat kepada saya. Saya khawatir ia akan meninggalkan saya mungkin karena ia ingin mendapatkan sensasi seks dari wanita lain dan tentunya rasa cintanya kepada saya jelas akan berkurang dan saya khawatir ini dapat memicu kerenggangan rumah tangga saya.


7.    Ditolak oleh Lingkungan dan Keluarga
Remaja yang menjadikan seks bebas sebagai ikon anak gaul zaman sekarang ini tentunya akan mendapat reaksi penolakan dari lingkungan di mana ia berada. Ia akan dicemooh, dijadikan bahan pergunjingan bahkan diasingkan dari pergaulan. Namun hal ini tentunya dilakukan oleh masyarakat yang menanamkan nilai dan norma yang berlaku di negara kita. Sebaliknya mereka akan diterima dengan tangan terbuka di lingkungan masyarakat yang mendukung perilaku seks bebas. Hal inilah yang juga turut menyebabkan maraknya perilaku seks bebas.
8.    Kerusakan moral
Perilaku seks bebas di kalangan remaja juga berdampak terhadap kondisi moral remaja itu sendiri, karena pikiran remaja tersebut akan dipengaruhi oleh hal-hal yang negatif sehingga jalan pikirannya cenderung menuntunnya untuk melakukan hal-hal yang negatif pula. Apabila hal ini terus-menerus menghantui pikiran remaja, maka bukan hal yang mustahil remaja tersebut mengalami kerusakan moral, dan apabila remaja di negara kita sebagai  generasi penerus bangsa telah rusak moralnya, maka hal ini menjadikan bangsa kita menjadi bangsa yang tidak bermoral yang akan berujung kepada kehancuran.


C.   Tingkat Perilaku Seks Bebas di Kabupaten Tana Toraja
Seiring dengan bergulirnya zaman, tingkat keterikatan masyarakat dengan norma dan aturan yang berlaku di masyarakatnya cenderung terkikis dan tergantikan oleh menariknya kemasan budaya luar yang menawarkan sejumlah kebebasan yang berlebihan. Salah satunya adalah perilaku seks bebas. Perilaku seks bebas tidak hanya marak terjadi di perkotaan namun juga telah merambah wilayah pedesaan bahkan data survei terakhir Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyebutkan bahwa kasus seks bebas lebih banyak di pedesaan daripada perkotaan. Sebanyak 5.912 wanita di umur 15-19 tahun secara nasional pernah melakukan hubungan seksual. Temuan tersebut mengacu Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia tahun 2007. "Ya, kalau dipersentasikan ada sebesar 1,3 persen," kata Kepala Bidang Evaluasi Hasil Penelitian KB dan Kesehatan Yogi Priyugiarto saat berbincang dengan okezone, di Kantor BKKBN Jalan Permata 1 Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (29/11/2010). Sedangkan pria di usia yang sama berjumlah 6.578, atau 3,7 persen pernah melakukan hubungan seks. Namun yang mengejutkan kasus hubungan seks pranikah ini justru terjadi di pedesaan. "Jika dilihat persentasi tempat antara di perkotaan dan di desa, maka di desa jumlahnya lebih besar dibanding perkotaan. Perkotaan 0,9 persen, kalau di perdesaan 1,7 persen," ungkapnya.
Bagaimana dengan tingkat perilaku seks bebas remaja di Kabupaten Tana Toraja?
Menurut data hasil pengamatan penulis dalam tiga tahun terakhir di sebuah sekolah menengah atas di Kecamatan Makale Kabupaten Tana Toraja menunjukkan bahwa di setiap tahunnya terdapat kasus seks bebas di kalangan remaja. Pada tahun 2008 terdapat 1 kasus dari 684 responden. Artinya pada tahun tersebut  terdapat 0,14% remaja yang melakukan hubungan seks pranikah. Pada tahun 2009 juga terdapat 1 kasus dari 785 responden. Artinya pada tahun tersebut  terdapat 0,12% remaja yang terlibat kasus seks bebas. Data yang sama juga ditunjukkan pada tahun 2010 di mana terdapat 1 kasus dari 810 responden. Artinya pada tahun 2010 juga terdapat 0,12% remaja yang melakukan hubungan seks pranikah. Dari hasil pengamatan tersebut dapat disimpulkan bahwa 3 dari 2279 remaja pernah melakukan hubungan seks pranikah atau sekitar 0,13% dalam tiga tahun terakhir. Tentunya angka ini jangan dianggap sebagai angka yang kecil. Justru hal ini dapat dimanfaatkan sebagai tolak ukur untuk segera mungkin mengurangi jumlah kasus perilaku seks bebas dengan penanggulangan yang tanggap dan tepat. Jangan sampai kita mendiamkan hal ini karena dianggap masih kecil. Jangan sampai di kemudian hari semakin banyak remaja yang terlibat ke dalam perilaku yang sangat merugikan tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar